4 Buku Terbaik yang Kubaca di Tahun 2018
Kemarin, aku diomelin Ibu gara-gara kebanyakan ngeluh pengen beli buku tapi engga punya duit. Ibu bilang ke aku supaya jangan terus-terusan beli buku karena yang kupunya udah terlalu banyak. Padahal, bukuku cuma sedikit dan belum cukup untuk bikin taman baca. HMM. Ya gitulah. Dari kecil, selain jadi pilot yang ternyata engga tercapai, cita-citaku yang lain adalah bikin taman baca. Jadi ya emang aku segila itu sama buku. Baiklah, sekarang ini aku engga akan nulis tentang perpustakaan pribadi. Yang akan aku tulis adalah tentang empat buku terbaik yang kubaca tahun 2018. Aku baru sempat nulis sekarang karena kemarin aku sibuk mengurus kenyataan.
1. KAMU ─ Sabda Armandio Alif
Yang aku suka dari tulisan Mas Dio (aku panggil ‘mas’ deh ya biar kayak udah kenal akrab gitu) adalah keabsurdan dan ketidakjelasannya. Mas Dio cerdas banget dalam memilih kata, menyusun alur cerita, dan mempermainkan pikiran para pembaca. KAMU bercerita tentang Aku yang untuk pertama kalinya bolos sekolah karena diajak oleh Kamu hanya demi mencari sebuah sendok. Iya, sebuah sendok. Sederhana banget kan? Tapi, pembicaraan yang menemani pencarian sendok ini menurutku sama sekali engga sederhana. Mereka berbicara tentang hidup, tumbuh dewasa, kepercayaan, keraguan, cita-cita, dan cinta.
Seseorang yang bertuhan seharusnya membangun jembatan, bukan dinding. Membangun tanah lapang, bukan menara. Sebab keimanan harusnya menghubungkan, bukan membatasi. (KAMU, hal. 74)Aku percaya, di dalam tubuh seorang lelaki ada kanak-kanak. Di dalam sisi kanak-kanak itu, ada hutan imanjinasi. Cewek yang baik akan merawat hutan itu, bukan menebanginya. (KAMU, hal. 292)
2. PARA BAJINGAN YANG MENYENANGKAN ─ Puthut EA
Ini buku terbaik parah mantap anjing dah! Menceritakan persahabatan Puthut dengan para bajingan yang menyenangkan, yaitu Almarhum yang namanya tidak sanggup disebutkan oleh Puthut, Bagor, Kunthet, Proton, dan Babe. Kisah-kisah mereka begitu konyol, masuk akal, dan tidak gagal membuat aku tertawa setiap membayangkan tingkah mereka. Salah satu kejadian yang membuat aku tertawa sekaligus merasa miris adalah saat mereka berlima pergi ke toko kaset dan beli CD, si Bagor dengan pede-nya bertanya pada yang jual, “Ada album grup rock Manchester United, Mbak?” Iya dia pikir MU itu adalah grup musik.
Buku ini pas untuk dibaca saat banyak pikiran, cocok juga untuk dibaca oleh manusia-manusia yang selalu bilang kalau skripsi itu berat.
3. SEMUA IKAN DI LANGIT ─ Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Satu-satunya alasan kenapa aku beli buku ini di pertengahan tahun 2017 lalu adalah karena heran sama nama penulisnya. Aku sama sekali tidak berekspektasi kalau isinya bakal bagus. Karena waktu itu aku agak sibuk mengurus kenyataan, buku ini akhirnya baru aku baca sekitar bulan April 2018. Dan ternyata isinya betul-betul parah. Gila. Hancur. Juara. Engga salah lagi deh juri Sayembara Novel DKJ 2016 memilih buku ini sebagai pemenang pertama.
Semua Ikan di Langit bercerita tentang perjalanan bus Damri mengelilingi angkasa, melampaui batas ruang dan waktu. Bus Damri yang ini jelas bukan bus biasa karena dia bisa mendengar cerita hidup penumpangnya melalui kaki mereka yang menapak di lantai. Dituturkan oleh tokohnya yang merupakan benda mati membuat buku ini begitu surealis, filosofis, sekaligus fantastis. Entahlah berapa IQ Kak Ziggy, kok bisa-bisanya dia nulis dengan secemerlang itu. Bahkan menurut Laporan Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2016 yang tertulis di sampul belakang, keterampilan bahasa Kak Ziggy yang sungguh di atas rata-rata membuat dewan juri tidak memilih pemenang-pemenang di bawahnya. Luar biasa sekali.
“Ah, ada surga, kan? Kalau tidak ada surga, rasanya mengecewakan sekali, sudah hidup lama-lama dan melelahkan seperti ini dan tidak dapat pembalasan apa-apa.” (hal.119)
4. BUKU LATIHAN TIDUR ─ Joko Pinurbo
Buku ini dikasih sama temanku si Depi. Katanya sih sebagai ucapan terimakasih karena aku udah bantuin dia ngerjain skripsi. Setelah Sapardi Djoko Damono dan Wiji Thukul, Joko Pinurbo adalah penyair favoritku. Kata-kata dari setiap sajak maupun puisi yang digubah JokPin itu romantis parah tapi masih bisa diterima akal sehat. Katanya sih, Buku Latihan Tidur ini tersusun dari puisi-puisi yang dibikin JokPin waktu beliau susah tidur.
Salah satu puisi favoritku dari Buku Latihan Tidur ini adalah Hati Jogja.
Salah satu puisi favoritku dari Buku Latihan Tidur ini adalah Hati Jogja.
Dalam secangkir tehada hati Jogja yang lembut meleleh.Dalam secangkir kopiada hati Jogja yang alon-alon waton hepi.Dalam secangkir senjaada hati Jogja yang hangat dan berbahaya. (hal.57)
Sebetulnya, selain empat buku yang kusebutkan di atas, masih ada buku keren lain yang kubaca tahun lalu. Misalnya nih, Aroma Karsa-nya Dee Lestari dan Pulang-nya Leila S Chudori. Tapi menurutku kedua buku itu terlalu luar biasa dan tergolong buku yang tidak bisa di-review oleh diriku sendiri sehingga hanya perlu dinikmati keindahannya secara apa adanya. Sekian. Goodbye. Xx




Udah ngga ada update lagi ya
BalasHapus