Words are Words
The sentence below is definitely just the sentence.
I found it yesterday in my JHS files on my PC. I wrote this when I was still in
1st grade of Junior High School. Almost six years, right? And I am so badly miss every single time when I used to write a letter for
Jesus. It was so hurt to feel and pretty hard to say. That's why maybe to write was just going to be the best way to understand.
Tuhan Yesus,
Engkaulah Raja di dalam hidupku. EngkAu yang selalu hidup di hatiku dan di jiwaku. Engkaulah sahabatku. Engkau yang selalu setia kepadaku. Tak ada satupun yang bisa melebihi setiamu padaku. Di kala dunia berpaling menjauh dariku, hanya Engkau satu yang datang padaku. Biarpun aku sering membuat hati-Mu sakit, tak pernah sedikitpun ada niat dari-Mu untuk membalasnya.
Tuhanku Yesus,
Engkau memang begitu setia. Begitu besar rasa sabarmu padaku. Melebihi dalamnya samudra ataupun besarnya jagad raya ini padaku. Biar aku acap kali meninggalkan Engkau tetapi Engkau tak pernah meninggalkan aku. Justru Engkau semakin mengasihiku. Tak hentinya kasih-Mu yang mengalir dalam hidupku. Setiap hari Engkau memperhatikanku. Mengawasi setiap gerak-gerikku. Menjauhkanku dari setiap bahaya yang menghadang setiap langkah kakiku. Menjaga tidurku sepanjang malam. Membelai keningku dengan lembut saat aku tidur lelap. Tapi entah mengapa aku tak pernah menyadari semua itu. Mungkinkah telingaku ini tak bisa mendengar Engkau yang selalu memanggil namaku? Ataukah mataku terlalu berat dan keras hingga aku tak pernah tahu bila Engkau menanti kehadiranku?
Tuhanku Yesus,
maafkan diriku bila aku selalu mengecewakanmu. Begitu setia Engkau menungguku. Tapi aku tak pernah datang. Aku memang hanya manusia biasa yang penuh dosa dan kesalahan.
Namun kuingin Kau tahu bila aku sungguh mencintai-Mu Yesus!
Amen.
Ndarry-VII C-15-SPY

Komentar
Posting Komentar