Untuk Kau di Pulau Seberang
Seperti kau, kau suara-suara riang yang riuh bergemuruh. Suara-suara
yang menjelma gerimis, badai, entahlah. Suaramu padang hijau berselimut daun
gugur. Suaramu menyela malam hilang.
Kau, kau. Suara melirih, menyepi, sunyi.
Kau lalu pergi dan aku bukan lagi rumah tempatmu pulang.
Kau mengembara dan aku bukan lagi senja yang ingin kau jumpa. Kau jatuh sakit
tubuhmu melepuh dan aku bukan lagi malaikat penyembuh. Kau terhempas tersungkur
dan aku bukan lagi alasanmu tetap bersyukur. Biar bagaimanapun kau tetap pergi.
Walau apapun juga kau tak kembali.
Tuhan menciptakan isi semesta dengan tanpa cela. Semenjak
aku sadar bahwa aku salah satu ciptaan-Nya yang Ia tempatkan di bumi, aku
mencintai keberadaanku sebagai manusia. Banyak yang kukagumi dari karya-Nya. Tak
banyak yang kubenci dari dunia ini, kecuali kepergian. Aku benci menemui kata
pergi. Aku takut menyambut kepergian. Jika kepergian betulan ciptaan Tuhan,
kenapa Tuhan harus ciptakan itu? Mengapa Tuhan menghadirkan kedukaan pada
kepergian?
Sungguh kepergianmu membuatku berprasangka buruk
pada-Nya.
Mengapa Ia biarkan kedatanganmu bila di kemudian hari kepergianmulah
yang lebih pasti?
Mengapa Ia biarkan kau tinggal sejenak jika pada akhirnya kau
meninggalkanku untuk waktu yang tak hingga lamanya?
Mengapa Ia biarkan kau
singgah jika sejatinya kau tak bersungguh-sungguh?
Dua tiga pulau ada di antara aku dan kau. Banyak hal yang
ahli. Banyak ilmu kau kuasai. Tapi mengapa kau tak mampu seberangi itu semua
untukku. Biar bagaimanapun kau tetap pergi. Walau apapun juga kau tak kembali.

Komentar
Posting Komentar