Ngobrolin Betapa Kampretnya Novel O Karya Eka Kurniawan



Kampret. Itulah kata yang keluar dari mulutku setelah rampung baca novel O karangan Eka Kurniawan. Hmm. Sesungguhnya masih banyak kata-kata kotor dan kasar yang pengen diucapin mulutku tapi sepertinya calon pendidik anak bangsa tiada pantas berkata kasar apalagi kotor. Hmm. Ah betapa kampretnya Eka Kurniawan menciptakan novel O ini. Kampret. Bagaimana bisa beliau diberkati dengan imajinasi yang sungguh keterlaluan kampretnya itu?

◦◦◦
 
 
Dilihat dari blurb-nya: tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut. Blurb yang sungguh sederhana. Namun sungguh isinya pasti tak akan sesederhana itu. Memang sih, novel ini bercerita tentang O, seekor monyet asal Rawa Kalong. O bermimpi menjadi manusia guna menyusul kekasihnya, Entang Kosasih yang konon katanya telah berhasil berubah menjadi manusia dan menjelma menjadi kaisar dangdut. Tapi tentu saja novel setebal 470 halaman ini tidak hanya menceritakan kisah O semata. Kisah dari tokoh lain seperti Sobar, Joni Simbolon, kakatua, Betalumur, Mat Angin, Ma Kungkung, Dara, Toni Bagong, Rudi Gudel, Jarwo Edan, Rini Juwita, Kirik, Manikmaya, Mimi Jamilah, revolver, dan mungkin masih ada beberapa tokoh yang lupa tidak kutulis juga turut dihadirkan menemani kisah hidup O. 

Kehebatan Eka Kurniawan dalam menciptakan buku-buku yang luar biasa sudah tidak perlu diragukan lagi. Seperti biasa, beliau menyuguhkan pilihan kata yang tepat dan indah. Alur loncat-loncat juga dipilihnya dalam novel O. Alur semacam itu bisa menyebabkan pembaca jadi terbagi dalam dua kategori. Pertama, pembaca yang mutung alias menyerah dengan kerumitan tingkat dewa novel ini. Atau kedua, pembaca yang geregetan, penasaran, dan pengin baca tiada henti. Aku sih masuk kategori kedua. Ehehe. 

Setelah aku googling, kutemukan bahwa genre novel ini adalah semi-fabel. Namun yang bikin aku heran adalah meskipun hewan menjadi sebagian besar tokoh yang diceritakan dalam buku ini, aku selalu merasa kalau yang saling berdialog itu bukan hewan, tapi manusia. Ah gimana ya. Intinya, hewan dalam buku ini sungguh terdengar seperti manusia. Ataukah justru manusia yang terdengar seperti hewan? 

Misalnya nih, di halaman 233, O bilang kepada Entang Kosasih kalau hidup tanpa risiko tak layak untuk dijalani, Sayangku. Sulit dipercaya sih memang, bagaimana bisa monyet yang kerjaannya makan pisang ngasih nasihat tentang hidup tanpa risiko.
Ada lagi nih di halaman 251, seekor tikus pembaca tanda masa depan bernama Manikmaya mengatakan bahwa cinta tak ada hubungannya dengan kebahagiaan, meskipun cinta bisa memberimu hal itu. Oh Tuhan, di kepalaku memori tentang tikus adalah tikus yang suka menggigit lemari punya nenekku, atau tikus yang suka mencuri makanan di dapur. Tapi di sini, bisa-bisanya tikus ngomongin cinta, pakai sok meramal masa depan pula. Huh.
Ada pula seekor anjing di halaman 470 yang mengungkapkan bahwa manusia, dari sampah kembali ke sampah. Apa yang dibilang oleh anjing itu menjadi kalimat pamungkas novel ini. Kalimat yang hmm gimana ya. Ah sudahlah sudah habis kata-kata yang bisa menggambarkan betapa kampretnya O ini. Intinya novel ini terbaiklah. Kampret betul si Eka Kurniawan bikin buku sekeren ini.

PS: thanks to Hace yang sudah menghadiahkan novel ini.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer