Ngobrolin Seorang Laki-Laki Yang Keluar Dari Rumah



“Anda bisa membaca novel ini dari setiap bab bernomor ganjil sampai tuntas, baru kemudian membaca bab genap; atau membaca novel ini sebagaimana lazimnya, dari awal sampai akhir; atau tidak membacanya sama sekali. Dan itulah golongan orang-orang yang merugi.”

 
Aku adalah pengagum berat karya-karya Puthut EA, sang kepala suku. Selalu ada pengetahuan, pengalaman baru, bahkan cara memandang hidup dari sisi yang baru dan berbeda bisa kudapat dari buku-buku beliau. Termasuk novel yang ini. Selain karena nama Puthut EA yang seakan sudah jadi jaminan kalau buku yang ditulisnya nggak akan mengecewakan, alasanku satu-satunya beli novel ini adalah karena blurb-nya. Seperti yang sudah kutulis di awal. Novel ini bisa dibaca mulai dari bab ganjil terlebih dahulu dan dilanjutkan bab genap atau membaca dari awal hingga akhir. Karena nggak mau ambil resiko nemu alur zig-zag, aku pun memilih yang pertama. Ganjil rampung baru genap. 


keluar

Dari judulnya, mulanya kukira buku ini bercerita tentang seorang lelaki yang literally keluar dari rumah, berkelana, dan meninggalkan segalanya. Kalau enggak, kupikir buku ini bakal bercerita anak laki-laki yang hilang karena keluar dari rumah dalam kurun waktu yang lama. Tapi ternyata aku salah besar. 
Menurutku, buku ini bercerita tentang seorang laki-laki yang keluar dari hidupnya. Iya, keluar dari hidupnya. Ia pergi berpetualang, menyusuri pikiran-pikiran, dan masa lalunya. Bab ganjil diceritakan dengan sudut pandang seorang laki-laki yang keluar dari rumah itu. Ia diceritakan begitu kuat hingga pada bab ganjil terakhir muncul suatu masalah yang menjadi fokus masalah pada bab genap. Selanjutnya, melalui penuturan sahabatnya, dikisahkan segala kelemahan laki-laki itu. 

Hampir mirip seperti buku-bukunya yang lain, dalam novel ini, Puthut juga menyisipkan pandangannya seputar politik, kekuasaan, pernikahan, hingga masalah kebangkitan komunisme. Uh, agak berat sih memang. Tapi enggak seberat rindu kok. Tenang. 

Ada banyak hal yang bisa kupelajari dari buku ini. Salah satunya adalah tentang masa lalu dan kenangan. Masa lalu itu memang ada. Kenangan itu juga ada. Dan nyata. Masa lalu menyakitkan yang sudah berusaha kita kubur dalam-dalam terkadang bisa dibangkitkan kembali oleh beberapa hal. Masa lalu berserta kenangan-kenangan manis maupun pahit itu hanya bangkit. Sekilas. Lewat doang. Kita nggak bisa hidup berkalang kenangan manis masa lalu atau hidup terkekang kepahitan masa silam. Nggak bisa. Dan nggak boleh. 

Sebagai manusia yang gemar baca buku, kadang aku ketemu buku yang nggak bisa dinilai, nggak bisa diulas, nggak bisa direview, tapi cuma bisa dinikmati secara apa adanya karena saking keterlaluan bagusnya. Dan buku ini adalah salah satunya. 


Komentar

Postingan Populer