#SuratKeSekian
Diammu mendung pekat di ufuk senjaku
Bisumu belukar tajam di padang rumputku
Suaramu bisik rindu di ruang gersangku
Mimpimu seberkas sinar di lorong gelapku
Kupanggilmu
Kusebut namamu dari dalam sepi yang bergemuruh, dari dalam kosong yang lapang,
Tak satu tolehan
Apalagi sahutan kuterima
Kurelakanmu
Seperti langit yang rela melepaskan birunya kepada awan kelabu demi rintik hujan bagi bumi yang tandus, aku rela melepaskan kamu agar tak lagi ada gurat sendu di wajahmu
Kuberhenti dambamu
Kuberhenti inginkanmu
Kuberhenti memujamu
Tapi
Kutak pernah dapat.
Bisumu belukar tajam di padang rumputku
Suaramu bisik rindu di ruang gersangku
Mimpimu seberkas sinar di lorong gelapku
Kupanggilmu
Kusebut namamu dari dalam sepi yang bergemuruh, dari dalam kosong yang lapang,
Tak satu tolehan
Apalagi sahutan kuterima
Kurelakanmu
Seperti langit yang rela melepaskan birunya kepada awan kelabu demi rintik hujan bagi bumi yang tandus, aku rela melepaskan kamu agar tak lagi ada gurat sendu di wajahmu
Kuberhenti dambamu
Kuberhenti inginkanmu
Kuberhenti memujamu
Tapi
Kutak pernah dapat.

Komentar
Posting Komentar