100 Menit Bersama Prof. Dr. Marsigit, M.A. : Pengembangan Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Matematika Untuk Bekal Menggapai Cita Sebagai Guru Matematika Inovatif di Masa Depan



Etnomatematika. Suatu kata yang mulanya terdengar asing karena tak satupun dari kami mengetahui apa maknanya. Usut punya usut, etnomatematika ternyata pertama kali diperkenalkan oleh seorang matematikawan asal Brazil bernama D’Ambrosio. D’Ambrosio mendefinisikan etnomatematika melalui kata “ethno”, “mathema”, dan “techné”. Kata “ethno” mengacu pada konteks sosial kultural yang meliputi bahasa, jargon, kode perilaku, mitos, dan simbol. Sementara itu, “mathema” berarti menjelaskan, memberitahu, mengerti, dan melakukan aktivitas seperti mengkodean, mengukur, mengklasifikasikan, menyimpulkan, dan memodelkan. Sedangkan “tics” berasal dari kata “techne” memiliki arti yang sama dengan teknik. Dari definisi D’Ambrosio tersebut, dapat dikatakan bahwa etnomatematika merupakan matematika pada aktivitas sosial kultural. Bila dinyatakan dengan bahasa yang lebih mudah, etnomatematika adalah suatu ilmu yang mengkaji tentang bagaimana menerapkan suatu budaya ke dalam studi matematika.

Setiap Jumat pagi selama 100 menit, kami, mahasiswa-mahasiswi yang tengah berjuang menuntut ilmu di program studi Pendidikan Matematika, melaksanakan kegiatan perkuliahan Etnomatematika bersama Prof Marsigit. Kuliah ini secara umum membahas mengenai hubungan antara budaya dengan matematika hingga upaya menyusun pembelajaran matematika berbasis etnomatematika. Namun sesungguhnya, kuliah ini membelajarkan banyak hal, seperti bagaimana mengembangkan kompetensi kami sebagai bekal untuk menggapai cita sebagai guru matematika inovatif di masa depan. 

Guru adalah salah satu komponen penting dalam upaya pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan, khususnya dalam pembelajaran matematika, guru matematika perlu dilengkapi dengan berbagai kemampuan tertentu. Bila kita mengacu pada dasar hukum yang ada, kompetensi yang harus dikuasai guru meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial (UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen). Pada prinsipnya, guru dituntut untuk dapat melaksanakan pembelajaran inovatif yang mampu memfasilitasi siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan. Selain itu, guru juga harus dapat menjadi teladan bagi siswa melalui sikap dan akhlaknya yang mulia. Sebagai calon guru matematika, tentu saja kami juga harus memiliki kompetensi tersebut. Berbagai aktivitas dalam perkuliahan etnomatematika dapat mendukung dikembangkannya kompetensi calon guru matematika. Aktivitas yang dimaksud meliputi: 

1.      Kegiatan Studi Lapangan
Kuliah etnomatematika tidak hanya dilaksanakan di dalam kelas, tetepi juga di luar kelas melalui studi identifikasi etnomatematika di Keraton Yogyakarta, Candi Prambanan, hingga Candi Borobudhur. Pada kegiatan studi lapangan, kami menggali dan mengidentifikasi berbagai artefak dan warisan leluhur bangsa yang dapat diaplikasikan sebagai bahan pembelajaran matematika. Aktivitas ini begitu berguna dalam mempersiapkan kami untuk menjadi guru matematika yang inovatif. Kami juga bersama-sama nonton wayang di Museum Sonobudoyo. Selain mengidentifikasi unsur etnomatematika, nonton wayang juga bertujuan agar kami bisa menemui bumi. Artinya, kami harus selalu menghargai beragam budaya di negeri pertiwi.

2.      Kegiatan Komentar Blog
Salah satu aktivitas penting dalam kuliah etnomatemtika adalah komentar blog milik Prof Marsigit. Awalnya, saya pribadi merasa bahwa komentar blog merupakan perkara yang berat karena banyak postingan Prof Masigit yang tidak bisa saya pahami dalam sekali baca. Akan tetapi, setelah beberapa kali berkomentar, saya mulai sedikit paham. Aktivitas komentar blog ini sejatinya sungguh bermanfaat bagi kami. Kami bisa belajar di mana pun dan kapan pun tanpa terikat oleh ruang dan waktu. Prof Marsigit memberikan kami kesempatan untuk membangun pengetahuan sesuai kapasitas, kemampuan, dan kecepatan kami masing-masing. Terkait dengan kompetensi guru, aktivitas ini bisa menjadi referensi bagi para calon guru untuk mengembangkan pembelajaran dengan inovasi-inovasi demi kepentingan siswa. Selain itu, aktivitas berkomentar juga memberikan faedah lain bagi kami. Begitu banyak tulisan Prof Marsigit yang bisa mengetuk pintu hati kami sekaligus mengingatkan kami untuk selalu bersikap rendah hati, ikhlas, tidak sombong, dan tidak lupa berserah kepada Tuhan YME.  
 
3.      Kegiatan Kuliah Etnomatematika di Kelas
Pada kegiatan perkuliahan di kelas, salah satu hal menarik dari Prof Marsigit adalah ketika beliau berbagi pengalaman hidup. Mulai dari pengalaman ketika menimba ilmu di negeri orang, observasi/mengadakan penelitian pendidikan di negeri orang, keliling dunia tanpa biaya, hingga sharing seputar persoalan asmara. Berbagai hal tersebut sungguh memberikan motivasi agar suatu saat nanti prestasi kami bisa menyamai atau bahkan bisa melebihi Prof Marsigit. Saya melihat bahwa Prof Marsigit adalah pribadi yang menyenangkan, senang bergurau, tetapi tetap serius.

Begitulah etnomatematika. Kini semester enam sudah hampir berakhir. Itu artinya, 100 menit kuliah etnomatematika di setiap Jumat pagi pun hampir berakhir. Meski singkat, 100 menit bersama Prof Marsigit ternyata lebih dari sekedar kuliah etnomatematika. 100 menit bersama Prof Marsigit sungguh berperan dalam mengembangkan kompetensi kami sebagai calon guru matematika. Semoga di masa depan, kami bisa menggapai cita sebagai guru matematika yang inovatif.




[oleh: INUNG SUNDARI/14301241011/PENDIDIKAN MATEMATIKA A 2014]







Catatan Penulis:

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Etnomatematika bersama Prof.Dr. Marsigit, MA. Suatu kuliah yang menyenangkan sekaligus menantang. 

Dalam penulisan tugas ini, penulis tidak dapat terlepas dari pertolongan berbagai pihak, mulai dari Tuhan Yang Maha Esa, kuota internet, sinyal kuat, laptop sehat, hingga referensi bacaan berikut:

Rosa, M. & Orey, D. C. (2011). Ethnomathematics: the cultural aspects of mathematics. Revista Latinoamericana de Etnomatemática, 4(2). 32-54.

Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang RI Nomor 14, Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen.

Dan tentu saja Prof Marsigit, dengan blog beliau yang sungguh menginspirasi.


Komentar

Postingan Populer