Selamat Menjadi Manten, Ya Mantan!
Saat itu aku sedang patah hati.
Lalu, seorang kawan karibku, sebut saja Nana, berkata
demikian.
“Patah hatimu itu belum seberapa kalau kamu belum pernah
ditinggal nikah oleh kekasihmu.”
Nana berucap lagi.
“Yang disebut patah hati itu adalah saat mantan yang kamu
harap ngajakin balikan malah mendahuluimu ke pelaminan.”
Aku hanya mengangkat bahu. Tak percaya.
Tak begitu lama setelah percakapan itu terjadi, aku
melihat cincin melingkari jari manismu, mantan, yang selalu kuharap mengajak
balikan. Aku lebih dari yakin kalau kau tak pernah suka mengenakan perhiasan.
Sekedar jam tangan pun kau enggan.
Aku takut menghadapi kenyataan itu. Aku juga terlalu
takut untuk menerka-nerka. Akhirnya kuberanikan diri untuk menanyakan alasan
apa yang melatarbelakangi eksistensi cincin itu kepada salah seorang sahabatmu
yang sama sekali tak kukenal. Aku tahu kalau dia tahu aku adalah mantan kekasih
terakhirmu. Persetanlah. Sudah kubuang jauh urat malu yang ada dalam diriku.
Oh ternyata, kau akan menikah. Kau bertunangan beberapa
bulan lalu. Bahkan aku tak pernah tahu kau punya kekasih. Dan bahkan aku masih
mengharapkanmu.
Sesaat lagi kau akan menikah. Kau akan menikah di tanggal
yang sama ketika kita berpisah. Kenapa? Kenapa? Kau ingin mengenang hari
perpisahan kita sebagai hari pernikahanmu yang indah? Baiklah, selamat menjadi
manten, mantan!
Aku tahu tiada yang abadi di muka bumi ini. Yang menikah
pun dapat berpisah. Tapi percayalah, aku tidak sejahat itu.
Aku sudah berhenti.
Pemberhentian terakhir dari kasihku padamu adalah doa.
Untuk keselamatan dan kebahagiaanmu. Kebahagiaan kalian.
Selamat menikah, mantan.
Semoga kalian berbahagia.
Baik
sekarang, esok, dan selamanya.
[Ditulis sebagai hadiah untuk seorang teman yang
ditinggal nikah mantannya.]

Komentar
Posting Komentar