8 Perasaan Yang Mungkin Timbul di Hati Mahasiswa Matematika

Tak terasa Oktober hampir usai. Itu artinya, usia belasanku akan segera berakhir dalam hitungan hari #kodekeras. Oktober juga mengingatkanku pada kejombloanku dan kejombloanmu #wkwkwk. Yang paling penting, datangnya bulan Oktober memberi makna bila aku sudah berada di pertengahan semester lima alias angkatan tua. 

Selama dua tahun menjalani hidup sebagai mahasiswi unyu jurusan pendidikan matematika, banyak perasaan yang sangat menghantui kepalaku dan ingin kubagikan pada segenap pembaca setia tercinta. Mulai dari yang manis, asin, asam, pahit, renyah, sampai kriuk-kriuknya kehidupan mahasiswa matematika.

1) Karena kamu kuliah di matematika, banyak orang berpikir kalau kamu cerdas banget
Suatu sore pas beli bakso di pasar, aku ketemu sama salah seorang teman nyokap.

Teman nyokap   : Dek Inung kuliah di mana?

Aku                          :  menghela nafas dalam) Pendidikan Matematika UNY, Budhe!

Teman nyokap  : (terpana menatapku) MATEMATIKA? WAH PINTER BGT YA KAMU!

Abang bakso      : (ikut terpana menatapku) (berhenti bungkus bakso) IYAA PINTER BANGET MBAK!

Aku                          : (tersenyum miris) (kemudian menelan 21 butir bakso raksasa sekaligus)

Tidak bisa dipungkiri lagi kalau matematika adalah pelajaran nomor satu yang dianggap sulit oleh banyak siswa. Salah seorang dosenku pernah bilang kira-kira begini: “Matematika itu memang sulit. Kalau ada yang bilang matematika itu gampang, jangan percaya.” Dosen yang sudah ahli aja bilang gitu, apalagi siswa biasa. Oleh karena itu, ketika kamu memilih jurusan matematika jangan heran kalau banyak orang pikir kamu super cerdas. Padahal sebenarnya.....  
Ah mereka nggak tahu aja...



2) Karena kamu kuliah di matematika, banyak orang berpikir kamu nggak butuh kalkulator lagi
Karena matematika identik dengan angka, orang-orang berasumsi kalau kamu yang kuliah di matematika bakal ahli dalam hitung-menghitung sehingga kamu nggak butuh kalkulator lagi. 


Peristiwa semacam ini pernah menimpa gueh di tengah acara rapat penyusunan anggaran.

Teman     : *menyodorkan empat lembar tabel yang isinya angka semua* Inung, tolong hitung ini ya. Aku lupa nggak bawa kalkulator, laptopnya juga mati. Kamu kan anak matematika, bisa dong ngitung beginian?

Aku          : *nunjuk ke arah langit malam* Enggak sekalian suruh ngitung bintang yang di atas itu?


Matematika itu bukan hanya seputar hitung menghitung. Jangan kira anak matematika nggak butuh alat bantu hitung lagi. 



3) Karena tiap hari bertemu dengan angka, formula, dan teorema, kadang kamu merasa hampir gila
Matematika itu ilmu abstrak. Banyak angka, banyak formula, banyak teorema. Tiap hari kamu memikirkan sesuatu yang abstak bin absurd. Tiap hari pula kamu membuat pembuktian dari semua hal abstrak itu. 

Kadangkala timbul tanda tanda di kepalamu seperti: 

“Sebenarnya rumus ini kapan berguna buat hidup gueh?”

“Kalau mau bikin es teh manis apa gueh juga harus menerapkan Fungsi Pembangit Momen?” 

“Apa aku harus membuktikan cintaku pakai reductio ad absurdum?” 
 Anisa cantik baru saja resmi menjomblo. More info? Hubungi aku ya :)
Akibatnya, terkadang kamu merasa hampir gila dan ingin menikah saja.
 

SELAMAT BAHAGIA ENDRY!


4) Dibalik semua keabstrakannya, matematika mengajarkanmu tentang banyak hal
Serumit apa pun soal matematika, pasti ada penyelesaiannya. Ini akan mengajarkan kamu bahwa serumit apa pun masalah hidupmu, pasti ada solusinya. Kamu pun akan makin yakin kalau tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.

Ketika kamu sudah mengerjakan soal statistik sebanyak satu halaman penuh dan ternyata salah, itu akan mengajarkan kamu untuk lebih teliti, hati-hati, dan bersabar menghadapi kenyataan. 

Kuliah di matematika akan membuatmu kenyang akan pembuktian. Percayalah, itu mengajarkan kamu untuk berpikir logis, kritis, sistematis, analitis, dan tidak gampang baper. Kenapa tidak gampang baper? Karena kamu harus lebih banyak berpikir dan bertindak dengan kepekaan logikamu dibanding kepekaan perasaanmu.




5) Kamu kuliah di matematika karena berbagai alasan
Kamu cocok jadi penulis, Peng!
Ada banyak alasan yang melatarbelakangi kenapa seseorang bisa kuliah di jurusan matematika. Pertama, karena memang sudah jadi passion kamu. Kedua, karena salah jurusan. Ketiga, karena cuma matematika yang mau menerima kamu apa adanya.
Buat kamu yang kuliah di matematika karena passion, beruntunglah kamu! Kamu pasti menjalani kuliah seperti di FTV-FTV itu. Biarpun kamu banyak main dan jarang belajar, soal ujian pun bisa kamu kerjakan dengan gampang. Iya, kan?

Buat kamu yang kuliah di matematika karena alasan ketiga, kamu patut bersyukur karena setidaknya masih ada yang menerima apa adanya kamu. Apa gebetanmu mau terima kamu apa adanya? Belum tentu, kan?

Buat kamu yang kuliah di matematika karena salah jurusan, ya sudah bahagialah dan terima saja matematika itu apa adanya.

Kamu selalu bahagia Waff!



6) Karena ada orang yang nggak percaya kalau kamu kuliah di matematika, kadang kamu merasa kesal
Sampai semester lima ini, nggak tahu kenapa masih ada orang yang mengenaliku sebagai anak FBS atau kadang anak FT. Setelah aku pikir-pikir lagi, bagi mereka yang mengenaliku sebagai anak bahasa, mungkin karena pipiku sudah setebal Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bagi mereka yang mengenaliku sebagai anak teknik, mungkin karena mukaku mukaku terlalu rumit kayak kabel atau terlalu berat kayak mesin.  


Seandainya masih ada orang yang nggak percaya kalau kamu anak matematika, terimalah saja dan tunjukin KTM-mu ke wajah orang itu. Kalau masih nggak percaya, bawa orang itu ke kantor jurusan! 


 
  7) Terlepas dari perasaan-perasaan di atas, kamu akan memiliki berbagai kompetensi yang belum tentu dimiliki mahasiswa jurusan lain
Menjadi mahasiswa atau mahasiswi matematika akan membuat kamu memiliki berbagai kompetensi seperti:
A. Bisa menyusun rencana yang baik
Matematika menuntutmu untuk belajar bagaimana membuat perencanaan, mengumpulkan data, menganalisis, menyusun interpretasi, serta menyajikan data. Hal ini membuatmu memiliki kompetensi sebagai perencana yang baik.
B. Memiliki logika dan analisa yang mumpuni
Logika? Itu makanan sehari-hari anak matematika. Jadi enggak perlu diragukan lagi kalau kamu akan memiliki kemampuan berpikir logis dan analitis.
C. Mampu menganalisa segala resiko dengan baik
Belajar matematika juga akan mengajarimu untuk dapat melakukan analisa tentang segala resiko buruk.
D. Bisa menyusun keuangan rumah tangga dengan baik
Karena hampir tiap hari berjumpa dengan angka, banyak orang bilang kalau anak matematika relatif lebih pandai berhitung. Jadi, kamu pasti bisa menyusun keuangan rumah tanggamu nanti dengan baik.
E. Bisa membimbing anak-anakmu belajar matematika
Kamu nggak perlu repot cari tentor matematika buat anakmu kelak. Karena apa? Karena kamu bisa jadi tentor buat anakmu. #eaaak



 8) Semua kompetensi nomor 7 itu menandakan bahwa kamu anak matematika adalah mutlak menantu idaman
Melihat beberapa kompetensi pada nomor 7 di atas, mertua mana yang nggak bangga punya menantu lulusan matematika?

HAHAHAHAH. JADI GIMANA?

Kamu kuliah di jurusan matematika? Selamat, kamu calon menantu idaman.
Kamu enggak kuliah di jurusan matematika dan punya pacar yang kuliah di matematika? Selamat, masa depanmu cerah bersama dia.
Kamu enggak kuliah di jurusan matematika dan punya pacar yang juga enggak kuliah di matematika? Udah.. putusin aja wkwkwkwk ((bercanda loh ya))
Kamu enggak kuliah di jurusan matematika dan masih jomblo? Tunggu apa lagi, nggak usah ragu untuk cari calon pendamping hidup yang kuliah di matematika.

HAHAHAHAH.

Yasudah sampai di sini dulu. Aku mau lanjut belajar Analisis Nyata supaya makin mantap jadi menantu idaman. 
 

[Postingan ini didedikasikan untuk segenap mahasiswa Jurdikmat Universitas Negeri Yogyakarta 2014, especially THE NEW PMA 14. 
Juga buat mahasiswa di luar sana yang sedang berjuang dengan matematika.]

 

    


Komentar

Postingan Populer