Untuk Kau Yang Terlalu Semu

Tak lebih dari satu bulan lagi, salah seorang temanku akan menikah. Di usianya yang baru kemarin genap dua puluh, aku tak habis pikir mengapa ia bisa begitu yakin dengan keputusan itu. Yang namanya menikah tentu bukanlah perihal sesederhana membeli baju yang kita mau, satu dua bulan bosan tak mau lagi kita kenakan. Kau tahu, menikah tidak sebercanda itu. Apalagi menikah di usia belia tentu harus dipikirkan matang-matang, dipertimbangkan berulang-ulang. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi temanku itu. Menurutnya, sama saja untuk menikah sekarang, dua tahun lagi, atau sepuluh tahun lagi karena ia akan tetap menikah dengan lelaki yang sama. Lelaki yang dicintainya.  

Suatu hari nanti, kita akan menikah. Maksudku, kau akan menikah. Begitu juga diriku. Kau akan menikah dengan wanita yang kau cintai. Aku pun akan menikah dengan pria yang kucintai. Atau mungkin tidak kucintai. Entahlah, hingga saat ini yang kutahu aku cuma mencintaimu.

Suatu hari nanti, undangan pernikahanmu akan sampai di meja kerjaku. Potret mesra antara kau dan kekasihmu menghiasi setiap jengkalnya. Di sana tertera salah satu puisi Kahlil Gibran yang menggambarkan betapa engkau memuja wanita pilihanmu. Pada halaman muka yang berhias pita putih tertulis namaku, sebagai kawan lama yang turut kau undang.

Suatu hari nanti, undangan pernikahanku juga akan tiba di tanganmu. Meski sebetulnya aku enggan mengundangmu, aku harus tetap melakukannya demi formalitas hubungan pertemanan kita. Namun, kumohon jangan datang karena kau hanya akan membuatku bimbang dan merusak pernikahanku sendiri.

Kau tahu, kita semua manusia yang lahir dengan segala keterbatasan. Kita tak pernah bisa memprediksi apa yang akan terjadi, di usia berapa kita mati, dan merencanakan siapa orang yang akan kita cintai. 
Suatu hari nanti, bisa jadi orang yang kau cintai adalah aku. Suatu hari nanti, bisa jadi kau akan menikah denganku. Walau peluangnya begitu kecil seperti inti atom tak kasat mata, kemungkinan itu pasti selalu ada. 

Tak seorang pun tahu jika aku menulis banyak puisi untukmu. Suatu hari nanti jika kau menikah dengan orang lain, akan kukirimkan antologi puisi tentangmu sebagai hadiah pernikahan untukmu. 
Aku harap istrimu membaca dan memahami bahwa adalah aku yang mencintaimu. 
Lebih dari semua.
Lebih dari yang bisa kau bayangkan.
Andai kau tahu. 
Andai kau tak terlalu semu, AWS.


#SuratKeLima
#30SuratCintaUntukmu
 

Komentar

Postingan Populer