Untuk Kau Yang Sejauh Pluto
Kau utara. Jadilah aku selatan.
Kau kiri. Jadilah aku kanan.
Kau terbit. Jadilah aku terbenam.
Kau alfa. Jadilah aku omega.
Kau dasar lautan. Jadilah aku langit kedelapan.
Itulah mengapa kau dan aku tak pernah bertemu.
Kau yang sudah sejauh Pluto, ingatkah kapan terakhir kali kita berjumpa? Aku harap kau belum melupakannya. Ah bukan, maksudku, aku harap kau tak akan melupakannya. Hari terakhir kita bersama. Ketika gemerlap lampu kota sirna oleh konstelasi gemintang. Ketika angin lembah menyapulenyapkan bising mesin pabrik di kota itu. Ketika semua penduduk kota yang bernafas mendadak mati. Menyisakan kita berdua yang porak poranda.
Sebelum hari itu, hidupku baik-baik saja. Semua berjalan normal seperti seharusnya. Akan tetapi usai hari itu, semua tak lagi sama. Kusadari bahwa aku telah berhasil melewati banyak hal. Namun parahnya, aku tak pernah berhasil melewatkanmu.
Kau tahu, Pluto telah diusir keluar dari sistem tata surya. Awalnya ia diyakini lebih besar dari Merkurius. Tapi apalah arti keyakinan jika kenyataan berkata sebaliknya? Pluto nyatanya jauh lebih kecil dari Merkurius, bahkan kalah dari ukuran Bulan. Bukan itu saja, Pluto telah menyalahi aturan. Bisa-bisanya dia menyinggung orbit Neptunus. Semenjak Pluto keluar dari orbitnya, aku merasa sedih. Kau telah keluar dari orbit. Bagaimana mungkin kita akan bertemu lagi?
Kau. Aku. Kita berdua tak ubahnya dua sisi dari satu koin yang sama. Itulah sebabnya kita tak pernah bertemu. Karena kau dan aku adalah satu.
Percayalah, AJ.
#SuratKeTiga
#30SuratCintaUntukmu

Gue berdo'a semoga AJ percaya. Huehehe
BalasHapusBtw, tulisan mu bagus. Gue nggak tulisan ini termasuk kategori prosa kah. Puisi kah. Atau esai kah mungkin. Entah lah. Yang jelas, gue suka cara lo menuturkan apa yang (mungkin) lo rasakan/alami. Uraian kata yang sebenernya sederhana, tapi bermakna. I like it.
Terimakasih atas doa nya.
HapusTerimakasih.
Niatnya cuma nulis surat, bukan puisi bukan prosa he he
Salam kenal yaa Masper :))