Untuk Kau Yang Sangat Ingin Kulupakan



Aku berharap surat ini bisa sampai di hadapanmu.
 
Akan tetapi, tunggu. 

Bila surat ini sungguh-sungguh sampai di tanganmu, bagaimana aku sebaiknya memulai surat ini? Apakah aku harus menanyakan keadaanmu? Apakah aku harus menanyakan sedang apa dirimu? Atau aku harus menanyakan siapakah dia yang saat ini bersarang di hatimu? Ya, mungkin aku memang harus menanyakan semua itu padamu. 

Kau yang telah kulewatkan, bagaimana kabarmu? Aku berharap bahagiamu selalu melimpah. Meski bukan aku yang menjadi alasanmu berbahagia, itu sudah cukup bagiku. Jika kau bertanya tentang keadaanku, bisa dibilang aku cukup baik. Sayangnya, kau tak pernah bertanya.

Beberapa hari yang lalu, aku mengerjakan lukisan dasar geometri seputar garis-garis segitiga. Kau tahu? Segitiga yang kubuat nyaris tak berbentuk. Lingkaran yang kucipta hampir tak menyatu. Lukisanku amat ruwet dan rumit. Seperti apa yang kurasakan terhadapmu. Tak berbentuk dan tak pernah menyatu. Aku penyebabnya. Aku sendiri yang membuat kau dan aku menjadi rumit, ruwet, dan runyam.
 
Kau tahu, ada begitu banyak jalan yang menghubungkan engkau dan aku. Beragam jalur bisa kita pilih. Mau dekat atau jauh, semuanya ada. Aku pilih jalur terkedat. Akan tetapi entah kenapa aku tak kunjung tiba di tempatmu bermukim. Secara fisik jarak kita tidak lebih dari tujuh mil. Namun tetap saja kau tak bisa kuraih. Belakangan ini aku tahu sebabnya. Kau tak pernah memilih apa yang menjadi pilihan. Kau menganyam lintasanmu sendiri. Bukan jalur dekat atau jauh yang kau pilih, melainkan jalur yang menuju ke arahnya. Bukan aku.
Aku bisa apa, bila melihatmu bahagia bersama dia sudah cukup?

Tahukah kau? Selama ini aku belajar dengan giat untuk tidak melupakan semua materi pelajaran yang akan keluar di ujian. Tapi apa jadinya? Bisa-bisanya aku lupa rumus yang baru kemarin malam kuhafalkan. 

Selama ini aku berjuang mati-matian untuk melupakanmu. Membuangmu jauh-jauh dari jangkauan memoriku. Aku enggan mengingat satu hal pun tentangmu. Apabila kita bertemu, aku ingin kita bertemu selayaknya orang asing. Dan jika kedua orang asing itu terpaksa saling berkenalan, aku harap mereka hanya sebatas saling mengetahui nama.
Tapi apa kenyataannya? Tidak peduli seberapa ingin aku melupakanmu, kurasa aku tak akan bisa. Kau terus muncul. Kemunculanmu semakin menjadi. Bukan lagi dalam wujud ragamu. Kau bisa muncul dalam khayal, mimpi, hujan, awan, bintang, udara, angin. Dalam segala keterbatasan dan ketidaksengajaan, kau selalu hadir.  

Bila sampai sekarang aku tak berhasil melupakanmu, itu bukan salahmu. Bila saat ini kau tak lagi memilihku, itulah tanggunganku. Mungkin ini yang dinamakan karma. Aku pantas menerimanya. Aku mengerti. Aku menerima sepenuhnya apa yang pantas kuterima. Aku pun akan melepaskan apa yang wajib kulepaskan, dalam hal ini melepaskanmu.

Dari segala aral yang merintangi kita, dari segala samudera terkelam yang membentengi kita, dari segala kerisauan yang melingkupi kita, dan dari segala kata yang tak pernah bisa kuucapkan secara langsung padamu, aku mengakui bahwa aku mencintaimu. Dan itulah mengapa aku harus melepaskanmu. 

Kau tahu, usia harapan hidup rata-rata manusia saat ini adalah enam puluh tahun. Aku hampir melewati sepertiganya. Jika itu waktu yang tersedia untuk melupakanmu, aku tidak yakin akan mampu. Bahkan seribu tahun pun tidak akan pernah cukup. Biarpun begitu, aku akan tetap mencobanya. Sekeras mungkin. Maukah kau mendoakanku agar dapat melupakanmu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya? Aku yakin kau pasti mau.
 
Kalau begitu, selamat tinggal. Aku mencintaimu. Andai kau tahu, AWS.



#SuratKeSatu 
#30SuratCintaUntukmu




Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer