Hujan Tere Liye Menurut Gue
Ngeri. Itulah kata pertama yang muncul di kepalaku setelah rampung baca Hujan-nya bang Tere Liye. Pada awalnya, aku sama sekali nggak tertarik sama Hujan. Punya rencana buat pinjem aja enggak, apalagi mau beli. Tapi berhubung Ibu gueh adalah ibu yang paling TOP di antara semua ibu yang paling TOP, beliau membelikan novel Hujan ini sebagai upah atas ke-baik-an dan ke-sangat-rajin-an gueh selama ini. Terimakasih, Emak!
Terpesona. Hujan adalah novel yang bersetting pada tahun 2050 di sebuah negara yang tidak disebutkan namanya. Hmmm. Tahun 2050? Itu artinya 34 tahun lagi. Hmmm. Kebayang tahun 2050 itu kayak gimana? Hmmm. Dalam Hujan, diceritakan kalau pada tahun 2050 teknologi berkembang dengan begitu pesat. Semua serba canggih. Bayar angkutan umum, bayar jajan di warung, bayar sekolah, hampir semua jenis pembayaran bisa dilakukan cuma pakai lengan doang! Bukan itu saja, saat kita belanja online, katakanlah belanja baju, segala ukuran, warna, dan jenis bahan baju yang kita mau bisa dicetak dengan piranti semacam printer gitu. Bayangin deh, printer bisa nyetak baju dan bahkan nyetak kue! Astaga. Gueh terpesona. Keterpesonaan gueh pada teknologi di dalam Hujan nggak berhenti di printer baju itu. Ada lagi yang lebih wow. Kamera terbang, mobil terbang, taksi terbang, dan mobil itu bisa terbang tanpa supir! Haduh gueh jadi merasa prihatin dengan diri gueh sendiri. Mungkin hidup gueh selama ini terlalu katrok sehingga gampang terheran-heran dengan teknologi canggih semacam itu. Hikss.
Gila. Semua teknologi gila itu belum seberapa. Ada teknologi yang menurutku lebih gila dan paling gila, yaitu teknologi menghapus memori atas kenangan apapun yang ingin dilupakan. Wow! Hujan bercerita tentang Lail yang ingin melupakan hujan. Kenapa Lail ingin melupakan Hujan? Semua jawaban ada dalam novel Hujan. Hihihi. Lail menjadi yatim piatu, jatuh cinta, menyelamatkan nyawa ribuan orang, patah hati, semua peristiwa itu terjadi ketika hujan. Itulah sebabnya Lail ingin melupakan hujan.
Khawatir. Setelah merasa ngeri, terpesona, dan gila teknologi dengan Hujan ini, aku merasa takut kalau kejadian-kejadian dalam Hujan sungguh-sungguh terjadi di masa depan. Kemajuan teknologi memang mengagumkan. Manusia memang terbantu oleh adanya teknologi canggih itu. Namun, bagaimana dengan alam yang rusak? Manusia telah menyerang dirinya sendiri dengan menyerang alam bumi. Saat keadaannya tak lagi stabil, alam akan menyeimbangkan dirinya. Terkadang dalam mencapai keseimbangannya, nyawa manusialah yang jadi bayarannya. Seperti dalam Hujan, bumi mencari keseimbangan dengan meletusnya gunung purba yang sudah ribuan tahun tertidur. Hampir sembilan puluh persen populasi manusia tak selamat. Bahkan disebutkan bahwa dua benua hilang dari peta! Beruntung, didukung kecanggihan teknologi, kegiatan manusia bisa pulih seperti sediakala. Namun, karena keegoisan manusia, dalam menyelesaikan masalah justru timbul masalah lain. Alam terus mendesak dan memprotes tindak manusia. Dan aku beneran takut. Bagaimana kalau di masa depan hujan benar-benar musnah? Bagaimana kalau di masa depan manusia pun punah?
Belajar. Dugaanku kalau Hujan ini cuma novel biasa ternyata salah. Orang-orang harus banget baca novel ini. Kita bisa belajar bahwa alam yang banyak dirusak cepat atau lambat akan balik merusak manusia, merusak diri kita sendiri. Kita juga bisa belajar hakikat jatuh cinta dan melupakan. Dan yang paling penting, siapa tahu di antara kalian jadi terinsiprasi ingin menciptakan teknologi canggih seperti yang ada di novel ini. Selain printer baju dan kue, mungkin kalian bisa bikin alat super canggih yang bisa nge-print jodoh seperti yang kita mau. Hmmm.
Quote. Ada beberapa kutipan yang membuat aku cukup terkesan, di antaranya:
[Halaman 201]
"Lail, kamu tahu kenapa kita mengenang banyak hal saat hujan turun?" Maryam tiba-tiba menceletuk bertanya.
Lail menoleh, menggeleng.
"Karena kenangan seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya."
Sekian dulu tulisan nggak penting dari gueh. Berhubung di luar sana mulai terdengar gemuruh calon petir, gueh mau pamit bobok dulu. Byeee.


Komentar
Posting Komentar