Ngobrolin Ayah-nya Andrea Hirata

Beberapa jam yang lalu, aku selesai baca karya terbaru dari Andrea Hirata yang berjudul Ayah.

 

Sebetulnya, aku udah agak lama nungguin Ayah terbit. Tapi pas udah terbit, aku malah galau.

Awalnya. Nggak tahu kenapa, kegalauan untuk beli novel ini hinggap di lubuk hatiku yang terdalam. Aku sampai tiga kali bolak-balik ke Toga Mas cuma buat ngerasain galau dan galau lagi antara jadi beli atau enggak. 
Pertama: awal Juni. Eeeeeh udah terbit nih Ayah, pengeeeen. Eh tapi jangan beli dulu deh, kan lagi mau ujian, belajar dulu lah. Begitulah kira-kira sesosok malaikat [yang entah baik atau jahat] berbisik di telinga gueh. 
Kedua: akhir Juni selesai UAS. Aduuuh ketemu Ayah lagi, beli nggak ya? Nggak usah deh, besok pinjem tuh si Khalisa apa siapa gitu pasti ada temen yang mau minjemin lo kan. Malaikat yang sama berbisik pada gueh lagi.
Ketiga: akhir Juli saat salam tempel lebaran masih berjaya di dompet. Gueh harus beli Ayah, harus beli, tapi.. ini Hujan Bulan Juni sama Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya kok kayaknya asik, beli dua ini aja lah. Kalo yang ini bukan malaikat yang bisikin gueh melainkan dompet gueh! 
Sampai rumah, sumfah aku nyesel banget nggak jadi beli Ayah. Akhirnya, tanggal 1 Agustus aku balik ke Toga Mas dan pulang ke rumah dengan Ayah yang udah ada di tangan. Huray! 

Plot story. Novel ini berkisah tentang Sabari yang mencintai Lena dengan segenap nyawanya. Meski bertepuk sebelah tangan, Sabari tetap mencintai Lena. Suatu ketika, Lena hamil akibat pergaulan bebas dan aksi-sok-play-girl yang ia lakukan. Karena tidak jelas siapa ayah dari anak yang dikandung Lena, Sabari pun bersedia mengorbankan diri sebagai tumbal dengan menikah Lena. Daripada menanggung malu, Lena pun menyanggupi meski tak sedikit pun menginginkan Sabari. Usai melahirkan Zorro, Lena kembali liar. Ia pergi melulu dan tak pernah pulang. Sabari tak ambil pusing dengan tabiat Lena dan lebih berfokus untuk mengasuh Zorro. Sabari begitu menyayangi Zorro dengan segenap jiwanya. Ia ingin terus memeluk, mencium, dan bersama Zorro di setiap detik. Bagi Sabari, Zorro adalah segalanya. Namun, tiba-tiba Lena merampas Zorro dari Sabari. Sabari hampir gila. 

Greget. Ceritanya sebenarnya sederhana tapi sukses bikin aku ketawa, kagum, sedih, dan terharu pada saat yang sama. Ketawa bayangin muka Sabari serta sahabatnya, si Ukun dan Tamat, dengan tingkah koplak mereka yang membuat aku nggak habis pikir gimana bisa orang macam mereka hidup di bumi. Kagum akan betapa sabar dan ikhlasnya Sabari dalam menghadapi segala badai yang bisa menerjang hidupnya. Sedih bercampur sebel saat melihat Lena yang sedetik saja enggan melihat Sabari. Dan terharu dengan kasih sayang Sabari sebagai seorang Ayah. 

Setting. Andrea Hirata masih memilih Belitong sebagai setting novel ini. Dan gueh sangat penasaran dengan fenomena blue moment, yaitu peristiwa ketika langit menjadi biru. Katanya, cuma Belitong yang punya blue moment! Fenomena ini pun cuma terjadi selama semenit pada suatu sore di bulan Februari. Aku pun penasaran banget dengan mitos jodoh yang bisa di dapat kalau kita mampu menahan napas saat terjadi blue moment. Ah jodoh lagi jodoh lagi. Jomblo mah gitu.

Puisi. Hal lain yang membuat aku terharu adalah puisi-puisi Sabari. Ah bener-bener terkagum-kagum deh gueh sama puisinya Sabari. Eh maksudnya puisinya Bang Andrea hihihi.
Rindu yang kutitipkan melalui kawan
Rindu yang kutinggalkan di bangku taman
Rindu yang kulayangkan ke awan-awan
Rindu yang kutambatkan di pelabuhan
Rindu yang kuletakkan di atas nampan
Rindu yang kuratapi dalam tangisan
Rindu yang kulirikkan dalam nyanyian
Rindu yang kusembunyikan dalam lukisan
Rindu yang kusiratkan dalam tulisan
Sudahkah kau temukan?
[Ayah, halaman 128]
Datangkan seribu serdadu untuk membekukku!
Bidikkan seribu senapan, tepat ke ulu hatiku!
Langit menjadi saksiku bahwa aku di sini, untuk mencintaimu!
[Ayah, halaman 110] 
Masih ada lagi sih puisi maut lainnya. Tapi baca sendiri aja yes. Gueh capek ngetiknya.

Quotes. Novel tanpa quotes rasanya basi. Banyak banget pembelajaran yang bisa kita petik dari novel ini. Ada beberapa patah kata yang cukup mengena di hati gueh, seperti berikut ini.
 Tuhan selalu menghitung, dan suatu ketika, Tuhan berhenti menghitung.
[Ayah, halaman 48]
 "Ingat, Boi, dalam hidup ini semua terjadi tiga kali. Pertama aku mencintai ibumu, kedua aku mencintai ibumu, ketiga aku mencintai ibumu."
[Sabari kepada Amiru. Ayah, halaman 394] 

Last. Aku sedikit curiga kalau novel ini adalah kisah nyata. Di akhir cerita, Bang Andrea tiba-tiba mengubah sudut pandang jadi 'aku' alias dirinya sendiri. Bang Andrea bilang kalau Amiru adalah salah seorang sahabat yang dikenalnya ketika bekerja di kantor pos Bogor. Di halaman awal pun tertulis begini: 'seperti dikisahkan Amiru kepadaku'. Yaps mungkin ini emang kisah nyata! Well, kalau benar ini kisah nyata, salut buat Sabari! 


Hah lelah nih guys udah malem bingits. Pokoknya Andre Hirata pancen TOP!
MERDEKA! AYO KERJA! #RI70

 

Komentar

Postingan Populer