Cuma Aku, Cicak, dan Tuhan Yang Tahu
Cicak, kuperhatikan sedari hari silam kau tak juga beranjak. Tidakkah kau jemu tiarap menerus menatapku?
Kau merayap dalam gelap. Kau mengendap meski pengap udara lingkupi.
Cicak, adakah kau di sana mengerti bahasa manusia? Tahukah kau bagaimana dada, hati, serta perasaan bekerja?
Kau tak berdecak. Kuanggap kau tidak tahu. Berbanding lurus denganku.
Entah.
Dadaku sesak. Seperti empat sisi dinding ruangan ini menghimpitku pada titik pusatnya. Menyisakan kepingan-kepingan ragaku di seluruh lantai.
Hatiku remuk. Usai tak satu pun sel tubuhku luput dari tikaman sejuta anak panah yang mucuat dari setiap pori-pori dinding ini.
Perasaanku. Ah, aku tak pandai perkara perasaan.
Namun, aku tahu. Aku mencintainya. Kukatakan padamu cicak di dinding. Aku mencintainya. Masih. Dan terus mencintainya.
Cicak, apakah kau berkerabat dengan cicak lain yang kini tengah mengendap di dinding kamarnya?
Kau berdecak tujuh kali. Kuanggap kau berkerabat dengan cicak di kamarnya itu.
Kumohon. Katakanlah pada cicak di dinding kamarnya jikalau ada pesan yang harus disampaikan pada tuan pemilik kamar. Cepat atau lambat pesan itu haruslah mampu menggetarkan gendang telinga tuan pemilik kamar. Sampaikan,
bahwa sejauh lima belokan jalan dari rumahnya,
bahwa selama tiga menit waktu tempuh jalur darat,
bahwa seiring terbit dan tenggelamnya matahari,
bahwa seirama denyut nadi dan jantungnya,
adalah aku yang selalu mencintainya.
Sampaikan juga, selamat mengulang hari penandatanganan materai pada secarik kertas yang bernama hidup. Bila hanya ada satu jalan tempat kaki kita melaju, mengapa tak sedetik pun kita pernah bertemu?
Terimakasih cicak untuk percakapan di bawah naungan purnama ke sekian juta.
Andaikata tuan pemilik kamar membalas pesanku, beri tahu aku segera.
Andaikata tuan pemilik kamar membalas pesanku, beri tahu aku segera.
Kutunggu hingga purnama ke sekian ribu juta.

Komentar
Posting Komentar