Kata di 23:55

Hai kamu yang nggak sengaja nyasar ke sini :)

Pada suatu malam menjelang pagi, tepatnya jam 23:55, sebelum bobok cantik aku merenung sebentar. Merenungi kenapa orang yang udah agak sedikit lama gueh suka eh ternyata dia malah suka sama sahabat gueh dan parahnya sahabat gueh itu malah menyia-yiakan dia. Eh bukan bukan! Sebenarnya, aku merenungi tentang kehidupan yang udah aku jalani selama kurang lebih delapan belas tahun ini. Betapa hidup itu adalah sebuah pilihan dimana pilihan itu adalah perintah yang harus dikerjakan. Eh? Ngomong apah gueh -_- 

Jadi ginih, aku merenung tentang seorang teman. Sebut saja dia Mawar. Kita berdua nggak terlalu dekat dan akrab, tapi kita juga nggak terlalu jauh. Yah bisa dikatakan jarak kita nggak sedekat pacar lima langkah tapi juga nggak sejauh mereka-mereka yang lagi LDRan. Mawar setahun lebih tua dari aku tapi secara pemikiran dan kedewasaan boleh jadi Mawar sangat jauh lebih dewasa dari aku. 

Mawar adalah anak yang cerdas, rajin, dan sangat mandiri. Ia bukan berasal dari keluarga kaya. Sang ayah udah meninggal sejak Mawar masih balita dan kini ia tinggal berdua dengan ibunya. Ibu Mawar berjualan aneka makanan ringan di rumah mereka guna mencukupi kebutuhan hidup mereka. Sementara itu, Mawar menempuh kuliah jurusan *gueh lupa dia jurusan apah* dengan gratis tis tis atas beasiswa dari pemerintah. Kuliah gratis, Mawar tak lantas hanya santai-santai saja. Ia membanting tulang untuk mendapatkan penghasilan dengan bekerja part-time di suatu toko pada sore dan malam hari. Sepengetahuan gueh, Mawar ini sering banget pulang malem karena pekerjaannya itu. Jam 10 atau 11 malem baru sampe rumah, kata dia mah udah biasah. Pas kuliahnya lagi libur semester dia nggak pernah yang namanya istirahat bobok-bobok di rumah apalagi yang namanya holiday jalan-jalan ke sana kemari. Bahkan, waktu liburan itu dia gunakan buat cari kerja yang lain yang bisa menghasilkan uang kala liburan. Walaupun dia sibuk kuliah dan kerja di sepanjang harinya, dia tetep aktif di berbagai organisasi di kampus maupun di kampung. Dia perfect binggo deh! Pinter, baik, suka menolong, rajin, pekerja keras, mandiri, dan nggak pernah mengeluh dengan seburuk apapun keadaan yang ia hadapi. Gueh saluuuuuut banget sama dia. Beda banget sama gueh. Walaupun bisa dibilang kalau gueh juga strong, tapi tetep aja kalo dibandingin sama Mawar gueh jelas kalah! 

Melihat Mawar, aku jadi mikir kalau selama ini aku masih sangat manja, kekanakan, egois, sering mengeluh dan sering menghambur-hamburkan uang. Gueh sering beli ini beli itu yang *ehem* branded dan agak mahal dikit. Yah padahal uang juga masih minta ortu. Lagian gueh juga bukan anak orang tajir. Dari Mawar, aku belajar bahwa mandiri itu nggak mudah dan cari uang itu sulit. Cari uang aja aku belum bisa. Huft. Dan aku pun belajar. Jika saat ini kita belum bisa cari uang sendiri, setidaknya jangan menghambur-hamburkan uang yang diberikan oleh ortu kita.

Sekian dan terimakasih. Bye. Muach. 







Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer