Jangan Jatuh Cinta di Malam Minggu
Hari ini tanggal tujuh. Kemarin tanggal enam. Besok tanggal delapan. Berarti lusa tanggal sembilan. Hitungan tak penting seperti itu bayi kemarin sore pun tahu. Ini Sabtu malam. Orang kebanyakan menyebutnya malam Minggu. Entah Sabtu malam, malam Minggu, Kamis malam, maupun malam-malam lain tetaplah sama fananya. Pada Sabtu malam ke sekian menjelang habisnya malam Minggu, aku berjumpa dengan kamu yang sedang jatuh cinta.
Saat kamu menatap dia yang kamu cintai, kulihat kilatan matamu mengalahkan kilat petir di mega mendung. Saat kamu berujar dengan dia yang kamu cintai, kudengar suaramu bergaung lembut membelai telinga semua insan. Gitamu lebih merdu dari gita seribu malaikat surgawi. Begitulah kamu yang sedang jatuh cinta. Bahkan saat kamu dan dia yang kamu cintai cuma diam yang tak sekedar dangkal, kamu seakan tersenyum. Lengkungan bibirmu lebih indah dari lengkungan tujuh warna oleh bias putih di langit. Mungkin deskripsiku amat berlebihan. Namun bukan jatuh cinta namanya jika ia tidak berlebihan.
Saat kamu menyentuh dia yang kamu cintai, rasa panas menjalar ke seluruh badanku. Seolah aku yang kamu sentuh. Seolah aku yang kamu cintai. Namun ini panas bukan hangat. Panas ini membara, berkobar hingga membakar segenap rusuk yang kupunya. Panas ini berbisik lirih namun licik. "Rusukmu telah ia hancurkan. Semua sudah jelas. Kau tercipta bukan dari tulang rusuknya." Begitu ucap panas yang menjawab tanyaku. Seperti seharusnya, setiap pertanyaan senantiasa berpasangan dengan jawaban. Dan jawaban lantas membawa kita menghadap kenyataan.
Sebisa mungkin akan kucuri tulang rusukmu lalu menyematkannya di sela dagingku. Agar tercipta perempuan yang empunya tulang dari tulangmu dan daging dari dagingmu.

Komentar
Posting Komentar