Jangan Labil Kau Cuaca!
Sore
ke sekian ribu semenjak embrio dalam kandungan ibu menjelma menjadi sosok
perempuan berambut merah bernama aku, aku pulang kampung. Menyingkir dari hirup
pikuk ramainya ibukota, lari dalam dekap ibu tercinta.
Kususuri
ruas jalan yang izinkan aku menapak. Sepanjang jalanan, dahiku berkerut tiada habis pikir. Tiga kilometer pertama yang kulalui, langit cerah meyapa setiap insane
Tuhan di bumi. Mentari menyeruakkan terangnya di luas langit biru berteman
arakan awan putih tembus pandang.
Tahukah
kamu?
Dua
kilometer selanjutnya, gerimis menitik dari langit. Mulanya cuma gerimis
memang. Namun gerimis itu lekas bertransformasi menjadi hujan derasyang menderu derai pedih. Dinding hatiku tergores oleh sapuan air hujan.
Lalu, tahukah kamu?
Satu kilometer kemudian, tanah yang kupijak sungguh kering. Tiada noktah basah bekas gerimis secuil pun. Cakrawala pun biru bersih meneduhkan mata menyejukkan hati. Aku berguman riang, ingin kulukis wajahmu di tiang awan. Agar biru langit sempurna bersama kamu pelangi.
Namun tiba-tiba, baru tiga belas langkah kakiku melaju, biru berganti kelabu. Kelabu berubah hitam. Gelap.
Badai mengamuk. Memakiku. Menyemburkan pusaran kerinduan yang sederhana seperti tiupan napas. Yang membunuhku.
Cuaca jalanan ke kampung ini labil, Sayang. Cuma jarak sekian jangkuan jemari saja, hujan deras lekas berganti cerah. Pun demikian, cerah berubah gerimis dalam sekali mataku berkedip.
Kamulah perjalanan. Kamulah peraduanku. Kuharap kamu tak labil seperti cuaca. Dekat atau jauh kuharap kamu tetaplah sama. Tetap bersedia menjadi perjalanan. Tetap sanggup menjadi peraduan. Tetap sudi menjadi ladang menyemai benih cintaku.

Komentar
Posting Komentar