Surat Buat Sahabat
Hai,
Sudah lama sekali sejak kita masih berseragam rok merah kemeja putih hingga kini kita sudah tak perlu lagi mengenakan apa yang bernama pakaian seragam.
Sudah lama sekali sejak kita masih kerap bersenandung nyanyian Anak Gembala hingga kini penyanyi Anak Gembala itu telah lulus sarjana.
Sudah lama sekali sejak kita masih bersama memandang cakrawala biru hingga kini rasanya cakrawala tak lagi berbias biru.
Hai, selamat berjumpa lagi.
Momentum yang kunantikan tiba sudah. Kala aku dan kamu di sini, dalam satu ruang yang sama. Kala aku dan kamu di sini, menghirup oksigen yang sama.
Selamat berjumpa lagi, sahabatku.
Kamu dan aku kini semakin dekat saja, jarak antara kita hanya seciut jangkauan jemari. Kamu tahu itu. Begitu juga dengan aku.
Namun kamu tahu aku tahu kita tahu bila semua fatamorgana semata.
Karena kamu dan aku sesungguhnya tak lagi menghirup oksigen yang sama.
Bahkan kamu sendiri yang bilang kalau kita tak lagi jadi sahabat. Teman pun bukan.
Aku mengerti bila aku memang hanya seciul molekul tak kasat mata yang beredar dalam lingkaran amat besar yang kamu lukis. Bisa kulihat kamu bersinar amat terang.Mulanya aku mengorbit di dekat pusat, dekat dengan kamu. Akan tetapi, seiring dengan berdetiknya waktu, datanglah berbagai molekul besar, partikel besar. Akhirnya molekul kecil itu lenyap hilang dari jangkauanmu. Kamu tak menyadari hilangnya diriku karena aku memang terlalu kecil untuk bisa kamu lihat.
Dan aku mengerti, sahabatku.
Dan aku mengerti, sahabatku.

Komentar
Posting Komentar